Popular Posts

Thursday, May 9, 2013

AYAH


Dan semakin dalam aku memandang wajahnya yang tampak begitu lelah namun tetap damai dalam tidurnya yang begitu tenang ketika tak sengaja aku melewati kamar itu. Ku perhatikan guratan di wajahnya dan setiap lekuk di keningnya, aku sadar bahwa dia tak lagi seperti dulu, dulu saat dia masih gemar bercanda dan  menggendong tubuh mungilku. Setiap garis di wajahnya seolah menggambarkan peluh dan keringat yang mengalir untuk sekedar mencari rupiah. Tanganku nyaris saja membelai wajah tenangnya, tapi sesaat ku terhentak dan mengurungkan niatku karna mungkin itu akan membangunkannya dari tidurnya yang lelap. Kurasakan setiap hembus nafasnya sambil kupandangi lagi dirinya dengan tatapan kosong. Terbayang segala perjuangan yang telah dilakukan dengan kegigihannya, segala bentuk usaha dan keringat yang tertuang dengan keikhlasannya, segala penjagaan yang terbina dengan tanggung jawabnya, segala petuah dan nasihat yang tersampaikan dengan kebijaksanannya,  serta segala tuntunan yang diberikan dengan kewibawaannya. Ya, segalanya tentang dia, tentang ayahku.

            AYAH. Begitulah aku memanggil dirinya. Seseorang yang sering memarahiku dulu karna aku berlaku tak patuh. Seseorang yang memukulku dulu ketika aku berbuat hal yang tak perlu. Seseorang yang selalu mengajariku untuk tidak menjadi seorang penakut. Seseorang yang selalu memintaku untuk tidak menjadi pengecut. Seseorang yang selalu menuntutku untuk tidak pernah merendahkan orang lain. Seseorang yang mengajariku untuk selalu bersyukur dan menerima. Seseorang yang selalu menguatkanku ketika aku terjatuh dan rapuh. Dan seseorang yang selalu mendidikku dan membesarkanku dengan pedoman agama. Itulah AYAH, Seseorang yang begitu luar biasa dan begitu berjasa dalam hidupku.

            Setiap hari tak pernah mengenal lelah mencari nafkah halal untuk menghidupiku, mengidupi keluargaku. Sekalipun tak pernah aku dengar kata-kata yang terucap dari lidahnya “Ayah itu capek nak seharian cari uang buat kamu, kakak-kakakmu dan juga ibumu”. Semua yang dilakukannya adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan Tuhannya. Ikhlas untuk mendapat ridho dari-Nya. Tak sedikitpun mengharap pujian atau kehormatan dari orang lain atas perbuatannya. Sungguh Yah, itu lebih terpuji dan terhormat dihadapan Tuhanmu begitupun bagiku Putrimu.

            Aku tahu betapa susahnya dulu kau mencari selembar rupiah, tapi tak sedikitpun kau ajarkan pada kami untuk berhutang sana sini, mengemis kian kemari untuk sekedar mendapat sesuap nasi. Sungguh masih kau jaga harga diri dan kewibawaanmu, Yah. Aku bangga. Aku ingat dulu semua baju yang aku kenakan dibuat sendiri oleh ayah, bahkan bando rambut yang aku pakai juga buatan ayah, itu semua ayah lakukan supaya dapat menghemat pengeluaran karena harga baju di toko saat itu masih mahal. Iya kan, Yah?. Tapi sekali lagi aku sangat suka dengan baju-baju buatan tangan ayah. Dulu hampir tidak pernah aku potong rambut ke salon, selalu ayah yang memotong dan merapihkan rambutku. Aku tahu karena waktu itu ayah tak ingin membuang-buang uang hanya sekedar untuk membayar tukang salon, mending untuk uang jajanku saja. Iya kan, Yah?. Dulu ketika aku berbuat salah, ayah selalu diam tak berkata, aku tahu itu bentuk protes ayah karena tidak setuju dengan apa yang aku lakukan. Benar kan, Yah?. Tapi dulu ayah juga pernah memukulku karena sikapku yang kekanak-kanakan. Aku juga tahu itu karena ayah ingin mengajarkan kepadaku agar tidak menjadi anak yang manja. Betul kan, Yah?. Setiap terima raport aku selalu menjadi juara kelas, tapi ayah tidak pernah menjanjikanku hadiah apapun. Aku tahu ayah ingin mengajariku agar aku tidak belajar hanya untuk mendapat imbalan tapi agar aku belajar karena benar-benar merasa diriku butuh. Begitu kan, Yah?. Dulu ayah tidak pernah menyuruh dan memaksaku untuk sholat dan mengaji. Aku tahu semua itu ayah lakukan karena ayah ingin aku memaknai bahwasanya sholat dan mengaji itu karena takut kepada Allah, bukan karena takut kepada ayah. Bukan begitu, Yah?.
Akhir-akhir ini ayah selalu bertanya dengan nada curiga tentang teman lelaki yang sedang dekat denganku. Aku tahu semua pasti karena ayah tak ingin Putri kesayangan ayah dipermainkan dan disakiti oleh lelaki yang tak pantas, karena sungguh selama ini kau sendiri tak pernah sidikitpun berniat untuk menyakiti hati Putrimu yang telah kau besarkan dengan penuh kasih sayang ini. Ayah juga selalu telepon ketika aku jauh, dan ketika aku tanyakan “ada apa, Yah?” maka kau akan menjawab “ini ibumu mau bicara” padahal aku tahu kalau ayah hanya ingin mendengar dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Iya kan, Yah?. Saat aku akan pergi dengan waktu yang cukup lama, ayah seolah tak peduli dengan berpura-pura sibuk menonton TV. Aku tahu meskipun mata ayah tertuju ke TV tapi pikiran ayah tidak karuan karena khawatir akan kepergianku dan hati ayah berdoa atas keselamatan dan kelancaran segala urusanku. Begitu kan, Yah?. Saat aku melakukan kesalahan dan menangis meminta maaf kepada ayah, ayah bilang “sudah-sudah diam jangan cengeng”, aku tahu ayah begitu karena ayah tidak ingin ikut menangis karena terharu olehku. Iya kan, Yah?.

           Yah, selalu ku sebut namamu dalam setiap doaku, betapa aku sangat bersyukur telah diberi ayah seperti dirimu. Maafkan putrimu yang sering tak menghiraukanmu. Maafkan putrimu yang tidak bisa memberi sesuatu layaknya sesuatu yang kau berikan kepadaku selama ini. Maafkan putrimu karena belum sempat membanggakan dan mengharumkan namamu hingga saat ini. Suatu saat Yah, aku tidak akan berjanji, aku akan berusaha untuk membuktikannya untukmu. Aku selalu berdoa kepada-Nya agar aku diberi kesempatan untuk dapat memberikan kebanggaan untukmu. Yah, restu dan doamu selalu aku pinta dalam setiap langkahku. Sungguh aku mendambakan sosok seorang lelaki sepertimu yang akan menjadi imamku kelak. Agar ayah tidak berberat hati ketika menjabat tangannya dan mengijabkanku padanya.



Dalam kerinduan yang mendalam
Tertanda Putrimu “DITA”
7 Desember 2011, 19:59

No comments:

Post a Comment