Biarkan kisah ini mengalir seperti air
yang menjalani sebuah takdir
dari suatu hulu menuju ke hilir
Biarkan kisah ini berhembus seperti angin
yang selalu ada disetiap musim
entah itu panas maupun dingin
Biarkan kisah ini bergemuruh seperti ombak
yang tetap akan selalu bergerak
selama bumi masih mampu kita pijak
KaRya_Q
Popular Posts
-
Pernah aku berbincang dengan senja ketika lorong itu sepi tiada sapa namun dia tak banyak kata berlalu begitu saja Sempat aku bertanya ...
-
Temaram awan hitam kelam kabut tebal merajut menjegal Jalanan lengang lekang hilang bersembunyi cecurut jalang dibalik sumpalan u...
-
Sengaja lidah tak berucap Lelah terjebak dalam debu penuh asap Lama bathin tak mengeluh telah terbiasa dengan keringat dan peluh ...
-
Wahai Pemuda… Jangan bangga membusung dada Meradang tawa mengagung tahta Laksana raja bergeming harta Lupa segala darma Wahai pemudi… Henda...
-
Ibu… Aku hanya ingin menuliskan apa yang bisa aku utarakan walaupun banyak kata yang tak dapat terucap dan terungkapkan terpendam......
-
Biarkan kisah ini mengalir seperti air yang menjalani sebuah takdir dari suatu hulu menuju ke hilir Biarkan kisah ini berhembus seperti angi...
-
Beranjak kaki dari alas menapak bidang batas menyusur alam bebas luas... lepas... Bersuci diri bersih sapih menyapih perih pedih hat...
-
Aq ingin mencintaimu dengan ikhlas seperti kasih bunda kepada anak-anaknya memberi tanpa mengharap balas dan kan selalu begitu selamanya Aq ...
-
Bersama dengan senja bintang mulai bercahaya menutup hari dengan sejuta misteri mengajak alam ke peraduan malam Purnama pun teduh utuh...
Thursday, May 9, 2013
SAJAK UNTUKNYA
Aq ingin mencintaimu dengan ikhlas
seperti kasih bunda kepada anak-anaknya
memberi tanpa mengharap balas
dan kan selalu begitu selamanya
Aq ingin menyayangimu dengan tulus
seperti aliran lembut air
yang tak akan pernah putus
dan kemudian kita sebut sebagai takdir
Mencintai tanpa harus dicintai
walau kadang diri ini haus akan kasih sayang
memiliki tanpa harus dimiliki
meski tak jarang hati ini tandus bagai padang gersang
Pergi...
Pergilah olehmu ke ladang asa
dimana kan kau dapatkan cinta
cinta yang mungkin tak kau temukan pada diriku
Terbanglah dengan sayap indahmu
kepakkan saja sesuka hatimu
hingga suatu hari kau kan mrasa lelah dalam pencarianmu
sampai kau kan dapati rasa sakit dalam hatimu
Dan ketika kau sadari semua itu
hanya satu pintaku
jangan pernah kau sesali dirimu
karna diriku akan slalu ada disini, untukmu...
seperti kasih bunda kepada anak-anaknya
memberi tanpa mengharap balas
dan kan selalu begitu selamanya
Aq ingin menyayangimu dengan tulus
seperti aliran lembut air
yang tak akan pernah putus
dan kemudian kita sebut sebagai takdir
Mencintai tanpa harus dicintai
walau kadang diri ini haus akan kasih sayang
memiliki tanpa harus dimiliki
meski tak jarang hati ini tandus bagai padang gersang
Pergi...
Pergilah olehmu ke ladang asa
dimana kan kau dapatkan cinta
cinta yang mungkin tak kau temukan pada diriku
Terbanglah dengan sayap indahmu
kepakkan saja sesuka hatimu
hingga suatu hari kau kan mrasa lelah dalam pencarianmu
sampai kau kan dapati rasa sakit dalam hatimu
Dan ketika kau sadari semua itu
hanya satu pintaku
jangan pernah kau sesali dirimu
karna diriku akan slalu ada disini, untukmu...
SAJAK UNTUKNYA
Aq ingin mencintaimu dengan ikhlas
seperti kasih bunda kepada anak-anaknya
memberi tanpa mengharap balas
dan kan selalu begitu selamanya
Aq ingin menyayangimu dengan tulus
seperti aliran lembut air
yang tak akan pernah putus
dan kemudian kita sebut sebagai takdir
Mencintai tanpa harus dicintai
walau kadang diri ini haus akan kasih sayang
memiliki tanpa harus dimiliki
meski tak jarang hati ini tandus bagai padang gersang
Pergi...
Pergilah olehmu ke ladang asa
dimana kan kau dapatkan cinta
cinta yang mungkin tak kau temukan pada diriku
Terbanglah dengan sayap indahmu
kepakkan saja sesuka hatimu
hingga suatu hari kau kan mrasa lelah dalam pencarianmu
sampai kau kan dapati rasa sakit dalam hatimu
Dan ketika kau sadari semua itu
hanya satu pintaku
jangan pernah kau sesali dirimu
karna diriku akan slalu ada disini, untukmu...
seperti kasih bunda kepada anak-anaknya
memberi tanpa mengharap balas
dan kan selalu begitu selamanya
Aq ingin menyayangimu dengan tulus
seperti aliran lembut air
yang tak akan pernah putus
dan kemudian kita sebut sebagai takdir
Mencintai tanpa harus dicintai
walau kadang diri ini haus akan kasih sayang
memiliki tanpa harus dimiliki
meski tak jarang hati ini tandus bagai padang gersang
Pergi...
Pergilah olehmu ke ladang asa
dimana kan kau dapatkan cinta
cinta yang mungkin tak kau temukan pada diriku
Terbanglah dengan sayap indahmu
kepakkan saja sesuka hatimu
hingga suatu hari kau kan mrasa lelah dalam pencarianmu
sampai kau kan dapati rasa sakit dalam hatimu
Dan ketika kau sadari semua itu
hanya satu pintaku
jangan pernah kau sesali dirimu
karna diriku akan slalu ada disini, untukmu...
PENGHARAPAN
Desah angin membelai jiwa
Iringan kasih ramah menyambut
Tetesan embun membasuh luka
Anyaman hati kian terajut
Kalut hati telah ku usir jauh
Ucapan suci nurani mulai tertata
Simpul senyum terangkai seiring terbit mentari
Uraian asa mulai ku rengkuh
Menjemput cita dengan penuh cinta
Agar kurasa hangatnya sentuhan kasih
Nafas ini tak boleh percuma
Ibarat menderita demi satu tujuan mulia
Nadi ini pun tak kan berdenyut lama
Gemerlap dunia hanyalah fatamorgana
Raih cita dan cinta dengan penuh asa
Usaha bukan satu hal yang nista
Menyongsong tujuan untuk fana dan baka
Iringan kasih ramah menyambut
Tetesan embun membasuh luka
Anyaman hati kian terajut
Kalut hati telah ku usir jauh
Ucapan suci nurani mulai tertata
Simpul senyum terangkai seiring terbit mentari
Uraian asa mulai ku rengkuh
Menjemput cita dengan penuh cinta
Agar kurasa hangatnya sentuhan kasih
Nafas ini tak boleh percuma
Ibarat menderita demi satu tujuan mulia
Nadi ini pun tak kan berdenyut lama
Gemerlap dunia hanyalah fatamorgana
Raih cita dan cinta dengan penuh asa
Usaha bukan satu hal yang nista
Menyongsong tujuan untuk fana dan baka
PENGHARAPAN
Desah angin membelai jiwa
Iringan kasih ramah menyambut
Tetesan embun membasuh luka
Anyaman hati kian terajut
Kalut hati telah ku usir jauh
Ucapan suci nurani mulai tertata
Simpul senyum terangkai seiring terbit mentari
Uraian asa mulai ku rengkuh
Menjemput cita dengan penuh cinta
Agar kurasa hangatnya sentuhan kasih
Nafas ini tak boleh percuma
Ibarat menderita demi satu tujuan mulia
Nadi ini pun tak kan berdenyut lama
Gemerlap dunia hanyalah fatamorgana
Raih cita dan cinta dengan penuh asa
Usaha bukan satu hal yang nista
Menyongsong tujuan untuk fana dan baka
Iringan kasih ramah menyambut
Tetesan embun membasuh luka
Anyaman hati kian terajut
Kalut hati telah ku usir jauh
Ucapan suci nurani mulai tertata
Simpul senyum terangkai seiring terbit mentari
Uraian asa mulai ku rengkuh
Menjemput cita dengan penuh cinta
Agar kurasa hangatnya sentuhan kasih
Nafas ini tak boleh percuma
Ibarat menderita demi satu tujuan mulia
Nadi ini pun tak kan berdenyut lama
Gemerlap dunia hanyalah fatamorgana
Raih cita dan cinta dengan penuh asa
Usaha bukan satu hal yang nista
Menyongsong tujuan untuk fana dan baka
BIMBANG
Mendung itu datang
ketika hati ini sudah mulai lelah
renta, rapuh dan mulai goyah
tergoyang saat terdera angin
Benturan karang putus asa semakin membuatku lemah
tak berdaya dan tanpa daya
hanya bisa menerima
mencoba menghadapi apa yang ada
Dan mendung itupun datang kembali
menambah gelap rentetan awan gelisah di hati
saat hati ini berada pada jurang kegalauan
dan tak tahu apa yang harus ku lakukan
Kabut resah itupun berpawai
menghalangi pandangan mata hatiku
sehingga ku tak mengerti apa yang sedang terjadi
walau aku semestinya tahu semua itu
Lautan kegelisahan mengombang-ambingkan bathin ini
mengambil alih semua yang ku kendali
saat aku berlayar pada samudra hati
dan aku tak tahu apakah aku masih bisa kembali
Coba tengok sejenak hatiku
yang dilanda badai kebimbangan saat ini
terhempas kian kemari
tanpa tahu arah dan tujuan yang pasti
Haruskah kuputar kendali ini ke kanan walau sebenarnya aku ingin ke kiri?
mestikah ku arahkan kendali ini ke kiri meski sebetulnya arahku ke kanan?
dan apakah aku akan maju tapi tujuanku ada di belakang?
atau aku berjalan mundur hanya tak ingin menemui tantangan di depan?
Akankah aku hanya berada di tengah dan hanya bisa berpasrah
tak berani menghadapi segala kemungkinan yang akan akan melanda
tak ingin mengambil resiko serta tantangan kehidupan
dan akhirnya hanya bisa menjadi seorang pecundang
ketika hati ini sudah mulai lelah
renta, rapuh dan mulai goyah
tergoyang saat terdera angin
Benturan karang putus asa semakin membuatku lemah
tak berdaya dan tanpa daya
hanya bisa menerima
mencoba menghadapi apa yang ada
Dan mendung itupun datang kembali
menambah gelap rentetan awan gelisah di hati
saat hati ini berada pada jurang kegalauan
dan tak tahu apa yang harus ku lakukan
Kabut resah itupun berpawai
menghalangi pandangan mata hatiku
sehingga ku tak mengerti apa yang sedang terjadi
walau aku semestinya tahu semua itu
Lautan kegelisahan mengombang-ambingkan bathin ini
mengambil alih semua yang ku kendali
saat aku berlayar pada samudra hati
dan aku tak tahu apakah aku masih bisa kembali
Coba tengok sejenak hatiku
yang dilanda badai kebimbangan saat ini
terhempas kian kemari
tanpa tahu arah dan tujuan yang pasti
Haruskah kuputar kendali ini ke kanan walau sebenarnya aku ingin ke kiri?
mestikah ku arahkan kendali ini ke kiri meski sebetulnya arahku ke kanan?
dan apakah aku akan maju tapi tujuanku ada di belakang?
atau aku berjalan mundur hanya tak ingin menemui tantangan di depan?
Akankah aku hanya berada di tengah dan hanya bisa berpasrah
tak berani menghadapi segala kemungkinan yang akan akan melanda
tak ingin mengambil resiko serta tantangan kehidupan
dan akhirnya hanya bisa menjadi seorang pecundang
KELAM
Ada segumpal awan di atas sana
tapi gelap tak ada cahaya
ketika senja tak lagi bersahaja
yang tersisa hanyalah segores luka
luka yang sempat tertoreh oleh sebilah dusta
dan hingga kini masih menganga
Perih memang...
ketika kau sayat perasaanku
kotor memang...
dikala kau nodai kepercayaanku
tapi biarlah...
sebentar lagi datang hujan
tetesan air akan membasuhnya
membawanya pergi dari gubuk bathinku
menyiram kembali taman hatiku yang kering dan tandus karna merindu
tapi gelap tak ada cahaya
ketika senja tak lagi bersahaja
yang tersisa hanyalah segores luka
luka yang sempat tertoreh oleh sebilah dusta
dan hingga kini masih menganga
Perih memang...
ketika kau sayat perasaanku
kotor memang...
dikala kau nodai kepercayaanku
tapi biarlah...
sebentar lagi datang hujan
tetesan air akan membasuhnya
membawanya pergi dari gubuk bathinku
menyiram kembali taman hatiku yang kering dan tandus karna merindu
Subscribe to:
Posts (Atom)